PAPER KAITANNYA PENYAKIT DISENTRI AKIBAT VEKTOR LALAT DENGAN KESEHATAN PELABUHAN
PAPER
Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular
Dosen Penganpu : Bapak Hamdan, SKM., MKM
“KAITANNYA PENYAKIT DISENTRI AKIBAT VEKTOR LALAT DENGAN KESEHATAN PELABUHAN”
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
ASEP MUHAMMAD SLAMET CMR0180100
EGI EPRYANSYAH CMR0180009
GITA SEPTI CMR0180013
MALDA NUR AULIA CMR0180018
RIMA AJENG NUR RAIHAN CMR0180025
SANTI SUSANTI CMR0180028
PROGRAM STUDI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
REGULER A SEMESTER IV
Tahun Ajaran 2019 – 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan Jalan Lingkar Kadugede No. 02 Kuningan - Jawa Barat Telp. 0232-875847
Fax. 0232-875123 Email : stikes_kuningan@yahoo.co.id
Website : http://stikeskuningan.ac.id
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pelabuhan merupakan perlintasan untuk keluar dan masuknya pelaku perjalanan, bagasi, kargo, peti kemas, alat angkut, barang dan paket pos baik yang bersifat internasional maupun nasional. Kondisi ini menjadikan pelabuhan sebagai gerbang transformasi penyebaran penyakit, terutama yang disebabkan oleh vektor penyakit (lalat) yaitu penyakit Disentri / Diare.
Hasil dari Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan pevalensi diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan atau gejala yang pernah dialami ART) adalah 8%. Terdapat 16 provinsi yang prevalensinya diatas prevalensi nasional, tertinggi yaitu Provinsi Sulawesi Tengah (10,3%) dan yang terendah yaitu Provinsi Kepulauan Riau (4,3%). Distribusi berdasarkan kelompok umur, prevalensi diare tertinggi terdapat pada Balita sebesar 12,8%. Prevalensi berdasarkan jenis kelamin, tertinggi pada perempuan sebesar 8,3%. Prevalensi diare 8,1% lebih banyak terjadi didaerah pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan.
1.2 Tujuan
Mengetahui secara keseluruhan mengenai vektor lalat, penyakit yang diakibatkannya, kaitannya penyakit dengan KKP/ Pelabuhan, dan proses pengendalian atau pencegahannya didaerah pelabuhan (KKP).
1.3 Rumusan Masalah
1.3.1 Apa yang dimaksud dengan vektor lalat
1.3.2 Penyakit apa yang disebabkan vektor lalat
1.3.3 Kaitannya vektor lalat dan penyakit disentri di pelabuhan (KKP)
1.3.4 Bagaimansolusi pencegahan dan pengendaliannya
2. PEMBAHASAN
2.1. Vektor Lalat
Lalat merupakan salah satu serangga yang termasuk ke dalam ordo Diptera. Beberapa spesies lalat merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan, yaitu sebagai vektor penularan penyakit. Sebagai vektor mekanis lalat membawa bibit penyakit melalui anggota tubuhnya (Santi, 2001). Beberapa spesies lalat yaitu lalat rumah (Musca domestica), lalat kandang (Stomoxys calcitrans), lalat daging (Sarcophaga spp.), lalat kecil (Fannia sp.) dan lalat hijau (Chrysomya megacephala).
Siklus hidupnya dari sejak masih telur hingga dewasa membutuhkan waktu 12 – 30 hari, lalat bisa bertahan hidup selama 2 – 4 minggu (musim panas) dan selama 70 hari (musim dingin) . Tempat beristirahat lalat biasan ya didaerah sejuk/lembab, intensitas angin rendah, dan ditempat kotor. Dengan jarak tempuh rata – rata sebesar 6 – 9 km, pada jarak tempuh 4 mil/jam. Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh vektor lalat (Lalat Hijau / Lalat Daging) seperti disentri / diare kecacingan, kholera, gatal pada kulit dan penyakit pencernaan lainnya. Beberapan penyakit yang ditularkan melalui vektor lalat diantaranya disentri, diare, kolera, amebiasis, gastroenteritis, dan lain – lain.
2.2. Kaitannya Penyakit Disentri Dengan Kesehatan Pelabuhan
Pelabuhan merupakan perlintasan untuk keluar dan masuknya pelaku perjalanan, bagasi, kargo, peti kemas, alat angkut, barang dan paket pos baik yang bersifat internasional maupun nasional. Sehingga kondisi kesehatan manusia dan lingkungannya sangat perlu diperhatikan guna mencegah terjadinya persebaran penyakit, terutama penyakit dari vektor lalat. Kondisi lingkungan dan kondisi suatu tempat dipelabuhan berpengaruh pada berkembangbiaknya kepadatan lalat, tempat – tempat tersebut diantaranya fasilitas toilet / wc, pembuangan sampah, kantin, saluran limbah / saluran air, hingga kondisi tempat pelelangan ikan.
Pandangan terhadap pelabuhan perikanan di Indonesia selama ini secara umum masih kurang baik, yang menjadi sorotan utama yaitu Tempal Pelelangan Ikan (TPI). Seperti diketahui bahwa tempat pelelangan ikan digunakan sebagai pusat pemasaran hasil tangkapan, melalui pelelangan disuatu pelabuhan perikanan, seharusnya berada dalam kondisi bersih agar mutu ikan tetap terjaga. Sanitasi dan higienitas tempat pelelangan ikan merupakan suatu hal yang sangat penting pengaruhnya terhadap mutu ikan yang didaratkan.
Faktor pengundang vektor lalat ditempat pelelangan ikan diakibatkan oleh sampah organik meliputi sampah sisa pembongkaran dan pelelangan ikan (sisa-sisa potongan ikan) serta sampahnon organik meliputi limbah dari industri pengolahan dan kapal-kapal berlabuh mencemari saluran drainase. Ditambah lagi dengan pembuangan sisa-sisa ikan membusuk di pinggir dagangan dan di pinggir pelabuhan.
Bercampurnya sampah organik dan non organik yang dibuang sembarangan menyebabkan merebaknya aroma sampah tidak sedap. Kondisi lingkungan di tempat pelelangan ikan yang kotor tidak terlepas dari aktivitas orang-orang yang membuang sampah sembarangan disana.
Kurangnya penanganan pada kebersihan lingkungan seperti pembuangan limbah ikan di pinggir dagangan akan mengundang banyak lalat dan vektor pembawa penyakit lainnya. Keberadaan lalat akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan penjual ikan yaitu dapat menularkan penyakit melalui beberapa bagian dari tubuh lalat seperti bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan, dan fecesnya.
2.3. Disentri
Disentri merupakan penyakit radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja lendir bercampur darah. Penyakit ini disebabkan oleh ameba (parasit bersel satu) dan bakteri, yaitu Entamoeba histolytica (ameba) dan Shigella spp (bakteri). Shigella merupakan bakteri penyebab penyakit Shigellosis yang ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi, penyakit disentri oleh Shigella spp umumnya terjadi di negara berkembang ditambah dengan kondisi lingkungan (sanitasi) yang kurang baik serta terdapat suatu kepadatan penduduk.
Berdasarkan Laporan RISKESDAS 2018 di indonesia diare lebih banyak dialami oleh balita (12,8%), kasus terjadinya diare ini lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan (8,1%) dan berdasarkan jenis kelamian diare lebih banyak berdampak pada perempuan (8,3%). Jika Shigella tertelan yang terjadi adalah dapat menginfeksi mukosa kolon dan berkembangbiak di sel epitel kolon dan menyebar secara lateral ke sel yang berdekatan.
Orang yang terinfeksi bakteri Shigella spp akan ditandai denganbeberapa gejala klinis ringan, berat, hingga tanpa gejala yaitu : adanya infeksi usus akut, diare berair, kram perut, mual, muntah, demam, tenesmus, anoreksia, dan tinja mengandung darah serta lendir (Yang et al., 2013). Komplikasi yang bisa terjadi oleh penyakit disentri seperti dehidrasi (terutama pada bayi), infeksi darah, kejang, sindrom hemolitik uremik, abses hati, dan postinfectious asthritis.
2.4. Segitiga Epidemiologi
- Host (Manusia) :
Berkaitan dengan perilaku hidupnya :
- PHBS
- Imunitas / kondisi kesehatan
- Rute perjalanan
- Pengobatan, dll
- Agent (Virus / Bakteri/Lalat Daging) :
- Disentri Bakteri : Campylobacter, E-coli tipe enterohemorrhagic (EHEC), Salmonnella, atau bakteri Shigella spp.
- Disentri Ameba (parasit bersel satu) : Entamoeba histolytica.
- Environment (Konidisi Lingkungan Pelabuhan) :
- Sanitasi Pelabuhan
- Kebersihan tempat pelelangan ikan
- Tempat Pembuangan Sampah
- Kepadatan lalat
2.5 Pencegahan dan Pengendalian Vektor Lalat di Daerah Pelabuhan
Untuk dapat mencegah dan mengurangi perkembangbiakan vektor lalat penyebab penyakit disentri basiler, perlu dilakukan secara berkala dan bersama – sama lintas sektor. Hal yang perlu dilakukan yaitu dengan memantau kepadatan lalat terlebih dahulu dilingkungan pelabuhan, memperbaiki kualitas sanitasi lingkungan yang ada dipelabuhan serta memperbaiki perilaku kesehatan penjual/nelayan potongan ikan sembarangan di tempat pelalangan hingga penyemprotan desinfektan secara berkala.
2.5.1 Pemantauan Kepadatan Lalat
Pemantaun kepadatan lalat dengan metode Scudder Fly Grill dipelabuhan bertujuan untuk mengetahui daerah yang menjadi potensi tempat singgah serta berkembangbiaknya lalat, penentuan sejauh mana indek jumlah kepadatan lalat, untuk penentuan awal luas daerah pengendalian, dan jenis pengendalian yang akan dilakukan.
Fly grill merupakan salah satu alat sederhana yang banyak digunakan dalam mengukur kapadatan lalat. Alat ini memiliki cara kerja yang sederhana dalam mengukur tingkat kepadatan lalat. Keunggulan fly grill ini adalah terbuat dari bahan yang mudah ditemukan, cara membuatnya sederhana dan murah. Pengukuran kepadatan lalat menggunakan alat ini akan lebih akurat karena dalam penghitungannya diperhatikan per blok grill. Selain itu, fly grill ini dapat diwarnai dengan berbagai macam warna agar dalam pengukuran kepadatan lalat dapat menggunakan fly grill dengan warna yang lebih baik dan lebih akurat dalam mengukur kepadatan lalat.
Dalam melaksanakan pemantauan kepadatan lalat dengan metode fly grill ini dipengaruhi suhu, kelembab, intensitas cahaya, dan variasi warna pada fly grill yang digunakan tersebut. Interprestasi hasil metode fly grill dibedakan berdarahkan jumlah lalat yang ditemukan pada lokasi yaitu :
- 0 - 2 Ekor : rendah dan tidak perlu pengendalian.
- 3 – 5 Ekor : sedang, perlu dilakukan pengamanan, dan perencanaan pengendalian.
- 6 – 20 Ekor : padar, perlu dilakukan pengamanan, dan perencanaan untuk pengendaliaannya.
- > 20 Ekor : sangat padat dan perlu dilakukan pengamanan serta pengendaliannya.
2.5.2 Tindakan Pengendalian Lalat
a. Mengurangi atau menghilangkan tempat perindukan lalat.
b. Mengurangi Sumber yang menarik lalat
c. Mencegah Kontak lalat dengan kotoran yang mengandung kuman pengakit.
d. Melindungi makanan, peralatan dan orang dengan lalat.
2.5.3 Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) Bisa di Lakukan Dengan Metode
1. Metode Pengendalian Fisik
Dengan cara mengurangi dan memberantas habitat perkembangbiakan lalat, bisa dilakukan dengan menyediakan tempat pembuangan sampah tertutup khusus sampah organik (potongan ikan), sampah non organik (plastik belanja, dan sebagainya), melakukan pemulihan/perbaikan sanitasi lingkungan dipelabuhan, memberikan rambu peringatan untuk menjaga kebersihan, dan membuat sebuah regulasi/aturan untuk menunjang keberhasilan memberantas vektor lalat.
2. Metode Pengendalian Dengan Agen Biotik
Penambahan agen biotik (pemangsa/predator) didaerah pelabuhan guna memberantas dan mecegah lalat untuk berkembang, dan bisa juga menanam tanaman yang khusus dapat mengurangi perkembangan serangga dilingkungan tersebut.
3. Metode Pengendalian Secara Kimia
Pelaksanaan penyemprotan desinfektan pembunuh lalat secara berkala dilingkungan pelabuhan, khusus diare yang berpotensi mengundang lalat untuk hinggap dan berkembangbiak.
2.4.4 Pencegahan Terhadap Aspek Higiene Perorangan
- Mencuci tangan dengan sabun setelah keluar dari kamar kecil dan sebelum menjamah makanan.
- Mencuci sayuran, ikan atau daging dengan bersih sebelum dimasak.
- Mengkonsumsi air minum yang sudah dimasak (mendidih). Jika minum air yang tidak dimasak, dalam hal ini air minum kemasan hendaknya diperhatikan tutup botol atau gelas yang masih tertutup rapi dan tersegel dengan baik.
- Tidak memakan sayuran, ikan dan daging mentah atau setengah matang.
- Membuang kotoran, air kotor dan sampah organik secara baik dengan tidak membuangnya secara sembarangan.
- Segera berobat ke fasilitas kesehatan bilaman frekuensi buang air meningkat, sakit pada bagian abdomen dan kondisi tinja encer, berlendir dan terdapat darah. Sebelum berobat atau minum obat, minum cairan elektrolit guna mencegah timbulnya kekurangan cairan tubuh.
2.4.5 Pengobatan Disentri
- Pemberian oralit dan cairan infus, yaitu untuk mengganti garam, gula, dan mineral dalam tubuh yang keluar.
- Pemberian obat bismuth subsalisilat, yaitu untuk meredakan kram perut dan diare.
- Pemberian pracetamol, yaitu untuk meredakan nyeri dan demam.
- Jika disentri bakteri parah, dokter akan memberikan antibiotik seperti ciprofloxacin.
- Untuk menangani disentri ameba, dokter akan memberikan metronidazole untuk membunuh parasit penyebab diare.
2.4.6 Pencegahan Terhadap Aspek Sanitasi Lingkungan Pelabuhan
- Pembuangan kotoran manusia yang memenuhi syarat. Prinsip pembuangan kotoran manusia yang memenuhi syarat adalah tinja yang dibuang terisolir dengan baik sehingga tidak dihinggapi serangga (lalat, kecoak! lipas), tidak mengeluarkan bau, dan tidak mencemari sumber air.
- Menutup dengan baik makanan/dagangan dipelelangan ikan, minuman dari kemungkinan kontaminasi serangga (lalat, kecoak), hewan pengerat (tikus), hewan peliharaan (anjing, kucing) dan debu.
- Tersedianya tempat pembuangan sampah organik dan non organik
- Penyemprotan desinfektan pembasmi lalat yang dilakukan secara berkala
- Menanam tumbuhan yang dapat mengurangi atau mencegah datangnya seranggan\
Dari pembahasan di atas kita dapat menyimpulKan bahwa vektor lalat menyebabkan terjadinya penyakit Disentri Basiller hal ini di sebabkan oleh sanitasi lingkungan yang buruk. Banyak nya ikan dan kapal menJadi sumber utama banyak nya lalat di pelabuhan. Dan Kurangnya penanganan pada kebersihan lingkungan seperti pembuangan limbah ikan di pinggir dagangan akan mengundang banyak lalat dan vektor pembawa penyakit lainnya. Keberadaan lalat akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia disekitarnya, oleh karena itu perlu dilakukan langkah langkah pencegahan.
Langkah – langkah pencegahan dan pengendalian vektor lalat serta untuk penyakit disentri dapat dilakukan dengan : pemantauan kepadatan terlebih dahulu dipelabuhan, pengendalian dengan berbagai metode (fisik, biotik, dan kimia), memperbaiki kualitas sanitasi pelabuhan, penyediaan tempat pembuangan akhir sampah, merubah pola perilaku masyarakatnya, dan membuat sebuah regulasi / peraturan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pelabuhan.
DAFTAR PUSTAKA
SAFITRI, Venti, et al. IDENTIFIKASI BAKTERI PADA EKSOSKELETON LALAT DI BEBERAPA PASAR DI SURABAYA. 2014. PhD Thesis. UNIVERSITAS AIRLANGGA.
MINDASARI, APRILIA. Pengaruh pemberian ekstrak etanol bunga Kamboja terhadap pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae dengan metode difusi sumur. Hang Tuah Medical journal, 2017, 15.1.
ANORITAL, Anorital, et al. Kajian epidemiologi penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh amuba di Indonesia. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2011, 21.1: 150548.
Kementerian Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. “Laporan Nasional RISKESDAS 2018”. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
WULANDARI, Dewi Agustina; SARASWATI, Lintang Dian; MARTINI, Martini. PENGARUH VARIASI WARNA KUNING PADA FLY GRILL TERHADAP KEPADATAN LALAT (STUDI DI TEMPAT PELELANGAN IKAN TAMBAK LOROK KOTA SEMARANG) Effect Of Variation The Color Yellow On Fly Grill To Density Of Flies (Study At Fish Ouction Place Tambak Lorok Semarang Cit. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 2017, 3.3: 130-140.
2017,Laporan Tahunan. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam. Batam https://www.kkpbatam.com/assets/uploads/docs/2566e-laptah-2017.pdf&ved=2ahUKEwjoiJ-Ho4rqAhWLILcAHZjHDwcQFjAKegQIBxAB&usg=AOvVaw3hvgDc-2yueZm_k1xqgKeO (Diakses pada 18 Juni 2020)
Lalat Dapat Berperan Sebagai Vektor Bertelur. USU http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/45400/Chapter%2520II.pdf%3Fsequence%3D4%26isAllowed%3Dy%23:~:text%3DLalat%2520dapat%2520berperan%2520sebagai%2520vektor,bertelur%2520(Levine%252C%25201990).&ved=2ahUKEwiyzrvmporqAhWNfn0KHeP_AOkQFjABegQIDhAG&usg=AOvVaw2FFMd8icV5ddge_zja0ib6&cshid=1592446981994 (Diakses pada 18 Juni 2020)
https://digilib.unila.ac.id/ (Diakses pada 18 Juni 2020)
http://resipatory.unmus.ac.id/ (Diakses pada 22 juni 2020)
2017, Susilowati A. Jurnal Universitas Muhammadiyah Semarang. LALAT. http://repository.unimus.ac.id/992/3/BAB%20II%20Lalat.pdf (Diakses pada 19 Juni 2020)
Alodokter.apk (Diakses pada 22 Juni 2020)
Komentar
Posting Komentar