TUGAS 1 SURVEILANS EVIDEMIOLOGI

Surveilans Penyakit Malaria

Berbagai penyakit diprediksi masih mewabah di 2020. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Suhantono, menyebutkan ada beberapa jenis penyakit yang masih akan berisiko menjangkiti masyarakat Indonesia di 2020.

Dari data BMKG, curah hujan pada 2020 akan lebih tinggi dibanding 2019, sehingga terdapat implikasi penyakit yang diakibatkan oleh curah hujan yang cukup tinggi. Salah satunya adalah malaria.

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus Plasmodium yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. 

Sekalipun malaria disebut sebagai penyakit lama, di beberapa negara dan daerah masih ada kecenderungan berkembangnya penyakit ini. Di Indonesia misalnya, jumlah penderita lama sebesar 261.617 kasus dan penderita baru di tahun 2018 sebesar 222.084 kasus. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kasus perkembangan penyakit malaria adalah di kabupaten Pangandaran. Kasus malaria masih ditemukan di Kabupaten Pangandaran selama periode 2014-2018. Pada tahun 2014 dilaporkan sebanyak 9 kasus malaria terjadi di Kabupaten Pangandaran. Pada tahun 2015 sebanyak 15 kasus, Tahun 2016 sebanyak 11 Kasus, Tahun 2017 sebanyak 7 Kasus, Tahun 2018 sebanyak 16 Kasus dan 7 Kasus pada Tahun 2019 (Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, 2019). Di Tahun 2018 terjadi lonjakan kasus yang cukup besar dan hal ini sejalan dengan hasil penelitian Lukman Hakim et.al di tahun 2015 yang menyatakan bahwa hingga tahun 2020 akan terjadi kenaikan kasus malaria yang disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi ke daerah-daerah endemis malaria (Hakim et al., 2018).

Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian malaria di Masyarakat. Faktor individu, seperti perilaku masyarakat memiliki risiko penularan lebih tinggi seperti kebiasaan keluar rumah di malam hari tanpa menggunakan alat pelindung diri atau repellent nyamuk. Selain itu kebiasaan tidur tidak menggunakan kelambu serta faktor pekerjaan memiliki efek risiko cukup besar juga terhadap kejadian malaria, terutama di daerah endemis. Selain itu kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah, tidak digunakannya obat anti nyamuk atau repellentdi rumah dan tidak dipasangnya kawat kasa pada ventilasi ikut mempengaruhi kejadian malaria (Tawas, Pijoh and Tuda, 2015). Pekerjaan sebagai nelayan atau petani yang mengharuskan keluar malam serta kebiasaan BAB di daerah pantai, sungai, hutan atau rawa memungkinkan masyarakat terkena gigitan Anopheles yang merupakan vektor malaria (Ningsi, Anastasia and Nurjana, 2012).

Surveilans malaria adalah kegiatan yang terus menerus, teratur dan sistematis dalam pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data malaria untuk menghasilkan informasi yang akurat yang dapat disebarluaskan dan digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat disesuaikan dengan kondisi setempat (Hakim, 2010).

Menurut Lapau (2010), sistem surveilans ada beberapa unsur :1) Tujuan sistem surveilans yaitu membandingkan tujuan sistem surveilans yang ditemui baik itu melalui wawancara dengan tujuan sistem surveilans. 2) Pengolahan dan analisis data yaitu menilai apakah pengolahan dan analisis data malaria dilakukan untuk menjawab tujuan surveilans yang telah ditetapkan. 3) Ketepatan Diagnosis yaitu Bagaimana mendiagnosis penyakit tersebut. Untuk melihat ketepatan diagnosis dapat dilihat dari nilai eror rate pemeriksaan laboratorium. 4) Kelengkapan laporan malaria yaitu persentase laporan malaria yang seharusnya diterima atau dikirim dibandingkan dengan kenyataan laporan malaria diterima dalam waktu tertentu. 5) Ketepatan waktu laporan berarti waktu
laporan diterima oleh puskesmas dari polindes, pustu dan pelayan kesehatan lainnya serta laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten sesuai
dengan waktu laporan yang telah disepakati atau ditetapkan bersama. 6) Partisipasi fasilitas kesehatan Informasi tentang kesehatan juga didapatkan atau bersumber dari sarana fasilitas kesehatan baik pemerintah, swasta, maupun perorangan yang disampaikan kepada unit kerja yang bersangkutan dalam hal ini dinas kesehatan kabupaten. 7) Akses ke pelayanan kesehatan adalah perkiraan warga masyarakat yang dapat menggunakan pelayanan kesehatan, yang tergantung oleh jarak, sosial ekonomi, budaya dan lain-lain. 8) Konsistensi yaitu data yang dimuat di dalam laporan tersebut adalah data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran pengisiannya oleh petugas pada sumber data terutama di puskesmas dan rumah sakit.

Dari kesimpulan Jurnal Pelaksanaan Sistem Surveilans dan Gambaran Epidemiologi Malaria di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, dapat diketahui bahwa keberhasilan pelaksanaan surveilans malaria sangat didukung oleh berjalannya unsur-unsur yang ada.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan secara menyeluruh
kepada semua sektor di daerah terutama bidang kesehatan dan pariwisata dalam penganggulangan malaria. Dan dalam pelaksanaannya penting sekali bagi tenaga kesehatan untuk memiliki pengetahuan yang memadai sehingga petugas pun mampu melaksanakan surveilans malaria dengan baik.

Sumber :

Ruliansyah Andri, dkk. 2020. Social Behaviors Causing the Increased Risk
of Malaria Transmission in Pangandaran. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 22 (2) : 115-125. Diakses pada 27 September 2020.
https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/hsr/article/download/2797/1672

Alamsyah Agus, dkk. 2013. Pelaksanaan Sistem Surveilans dan Gambaran Epidemiologi Malaria di
Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu Tahun 2008-2010. Jurnal Kesehatan Komunitas. 2(2) : 61-66 Diakses pada 27 September 2020.
http://jurnal.htp.ac.id/index.php/keskom/article/download/46/35


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAPER KAITANNYA PENYAKIT DISENTRI AKIBAT VEKTOR LALAT DENGAN KESEHATAN PELABUHAN

PAPER MANAJEMEN BENCANA PADA GEMPA BUMI LOMBOK

REVEIW PEMBELAJARAN PERTEMUAN 1 MATA KULIAH SURVEILANS EPIDEMIOLOGI